"Oh! Al! Kau datang juga,"

Kak Rossa menyambut kedatanganku dan Nana ke tempat perjanjian kami. Di dekat taman kota.

Gadis yang satu tahun lebih tua dariku ini memakai rok panjang dan jaket jeans. Nana memakai baju terusan berwarna putih. Sedangkan aku hanya memakai celana panjang biru tua biasa dan kaos hitam favoritku.

Sepertinya baru Kak Rossa yang sudah sampai di sini.

"Isaac sudah datang tadi, tapi dia mengantarkan Kakak perempuannya ke tempat kerja dulu,"

Oh.

"Selamat pagi, Kak Rossa,"

"Oh, selamat pagi Nana. Aww~ Bajumu manis sekali~"

"Terimakasih pujiannya,"

"Oh, Al. Kenapa wajahmu terlihat pucat sekali?"


Aku kaget karena tiba-tiba Kak Rossa mengarahkan pertanyaannya padaku. Tapi segera kujawab dengan jawaban standar,

"Tidak apa-apa," Kataku sambil tersenyum.



Ini semua karena kejadian yang lagi-lagi membuatku tersiksa secara mental. Aku tidak percaya kalau tadi malam aku digigit "itu". Rasanya masih pegal sekali di daerah leherku.

Dan setelah mendengar kata-kata 'diriku dari masa depan' membuatku tidak boleh lengah sedikitpun.




"Yo!! Al! Rossa! Oh Nana juga!"

Pemuda yang dijuluki raja Hoax ini setengah berlari menuju ke arah kami. Dia memakai kemeja kotak-kotak dan celana jeans.

"Oh, Iwan, kau datang juga?" Kata Rossa dengan nada datar.

"Hei, hei, hei, aku punya waktu luang jadi kupikir kenapa tidak membantu Komite 'Elite' Perpustakaan,"

"Sudah kubilang tidak ada kata Elite-nya," Jawabku dan Kak Rossa hampir bersamaan.


"Iya-iya, papa! mama!"

"Papa?!"

"Mama?!"

"Habis kalian berdua cerewet seperti Orang tua ku, sih! Hahahaha,"




"Hei, berhenti, pagi-pagi sudah membuat keributan," Kata Isaac yang baru saja turun dari sepeda motornya.

"Kak Isaac! Itu motor kakak?! Aku mau membonceng Karawasaki Ninja RRR itu!," Kata Nana terlihat antusias saat melihat sepeda motor Isaac.

"Eeh? Boleh... Tapi,,"

Isaac memandang ke arahku.

"A-asal jangan ngebut-ngebut tidak apa-apa sih," Kataku seakan mengerti.


"Tidak mungkin! Isaac sudah pasti mengebut! Aku sudah trauma naik dengannya," Kata Kak Rossa sedikit gemetar seakan luka lamanya terbuka kembali.

"Si-siapa yang ngebut?!"

"Ngebut tidak apa-apa! Semakin cepat semakin bagus! Adrenalinku terpacu! Wooh!"

Mata Nana terlihat sangat berkilau saat membicarakan sepeda motor. Aku tidak tahu kalau dia suka motor.




"Sekarang tinggal Aisa dan Eve yang belum datang...Batas waktu tinggal 12 detik lagi" Kak Rossa melihat jamnya dengan seksama seperti Wasit Sepak bola yang menyadari sebentar lagi pertandingan selesai.


"Apa Aisa sudah di beritahu konsekuensi terlambat pada acara Komite?" Tanyaku pada Isaac.

Biasanya sih diomeli habis-habisan. Jadi aku sudah biasa. Tapi untuk Aisa mungkin akan sedikit berat. Aku bisa bicara seperti ini karena aku residivis omelan Kak Rossa.


Sebelum Isaac menjawab pertanyaanku, rupanya kedua gadis itu datang turun dari Limo hitam yang mengantar mereka.


"..."


Tiga titik-titik di atas adalah ekspresiku dan Nana. Sedangkan yang lain sepertinya biasa saja melihat mobil mewah mengkilap yang baru saja menurunkan teman kami itu.


"Pagi!"


"TELAT!!"


"Hae! Kita datang tepat waktu, kan?"

Aisa terlihat kaget karena disambut dengan wajah Kak Rossa yang mengerikan.


"Point minus 20! Aisa dan Eve!"

Setelah menunjuk mereka berdua dengan telunjuknya. Kak Rossa mengeluarkan notebook dan menulis sesuatu.

Aisa terlihat bingung dan Eve seperti biasa tenang-tenang saja. Sepertinya dia sudah sehat, banyak yang ingin kutanyakan padanya.

Oh, Aku tentu saja tidak menyiakan waktu untuk memasukkan sarkasme di sini.


"Biar kutebak, sistem poin ini baru saja kau putuskan tadi, kan? Aku tidak ingat ada peraturan seperti itu,"


"He? Iya sih," Kata Kak Rossa terlihat tanpa dosa sama sekali.


Setelah mendengar 20 detik ringkasan dari peraturan ini aku mengambil kesimpulan : Kak Rossa semalam melihat film tentang sekolah esper yang memiliki sistem poin dan bla bla bla dia tertarik untuk menerapkannya di komite. Jadi, Intinya, pemilik point tertinggi adalah Rajanya. Pemilik point yang lebih rendah harus menuruti kemauan dari pemilik point yang lebih tinggi. Memangnya kita masih jaman menggunakan sistem berkasta seperti ini?!


"Ckckck! Kau salah Al! Sistem ini diciptakan untuk saling berkompetisi menjadi penyumbang terbaik di Komite! Sistem ini sempurna!"

Terserah. Jadi sekarang bisa jelaskan perolehan pointnya?

"He? Ok. Pertama tentu saja aku dan Isaac, 110 poin, Kedua Nana 105 poin, Ketiga Aisa 70 poin, keempat Eve 10 poin,"

Aku tidak mendengar namaku sama sekali dalam daftar itu.

"Al minus 40 poin,"

Banding! Saya mengajukan banding! Oi! Apa yang kulakukan sampai dapat minus 40 Poin?!


"Hm? Itu rahasia perusahaan,"

Daripada disebut sistem, ini lebih tepat disebut Tirani!

Aku ingin mengatakan itu tapi tubuhku lemas tidak ingin berdebat kusir dengan orang yang seenaknya sendiri.

"Terserah," Kataku tidak peduli.




Iwan menepuk pundakku dengan ekspresi seperti seseorang yang menghibur pemain sepak bola saat dia melakukan gol bunuh diri. Apa?! Aku tidak butuh belas kasihanmu.


"Karena Eve baru saja sakit dan dia memakai baju yang manis, Eve plus 60!"

"...Terimakasih," Kata Eve tanpa nada sedikitpun.

"Aku juga baru saja sakit-"


"Ok! Sekarang kita mulai acara di minggu pagi yang cerah ini!!"

Apa baru saja aku tidak hiraukan?






"Jadi, kita kemana Rossa? Apa langsung ke toko buku?" Tanya Isaac yang berada di barisan depan bersama Kak Rossa.

"Belum-belum! Sebelum ke menu utama, kita harus mengisi perut dulu," Kata Kak Rossa dengan senyuman liciknya. Aku tahu kalau dia merencanakan sesuatu.

"Huhuhu!! Aku tidak sabar!" Aisa terlihat bersemangat sekali. Senang melihatnya kembali normal. Aku tidak menyangka kalau beberapa hari yang lalu aku bertengkar dengan gadis yang sangat periang ini.

Sementara Isaac, Aisa dan Kak Rossa berjalan di barisan depan , Iwan dan Nana bercerita tentang "Benda tak Bermassa.. bla bla bla di barisan kedua.

Aku menggunakan kesempatan ini untuk bertanya pada Eve.


"A-anu kau baik-baik saja,"

"Tenang saja, Tuan. Saya tidak apa-apa,"

"Syu-syukurlah, maksudku setelah luka separah itu kau bisa terlihat sehat seperti ini dalam dua hari... Organisasi benar-benar hebat,"

"...Ya,"

Dia sepertinya tidak bersemangat sama sekali."


Aku ingin mengatakan sesuatu... tentang kejadian semalam pada Eve atau Aisa.


Kejadian itu sampai sekarang masih terekam jelas dalam otakku sejelas Video kualitas BluRay.


....................



...........



.....



...




"LEPASKAN AKU SIALAN!!"

'Al' dari masa depan ini benar-benar kuat dia mengunci kedua tanganku sekuat rantai besi.

"Tolong, Saya butuh kerjasama anda,"

"Hau, Kerjasama Al kecil diperlukan!"

Eve versi mini ini juga mengunci kakiku, darimana energi tuyul kecil ini?!

Aku berusaha memberontak. Entah tidak tahu alasannya. Tapi kalau aku dikunci seperti ini membuatku ingin melepaskan diri.


"Heh, datang jauh-jauh cuma melakukan ini..."

Suara dingin itu terdengar sangat berat, menusuk telinga, detak jantungku berdetak tidak beraturan, Nyaliku untuk memberontak hilang entah kemana... Suara ini jelas suara yang eksistensinya melebihi manusia.


Aku gemetar.


Perlahan sosok wanita itu mendekat. Suara langkahnya yang memiliki interval yang sama membuatku semakin ketakutan. Keringat dingin pun mengucur dengan deras dari tubuhku.


Tap tap TAP

Dengan suara langkah terakhir yang lebih keras dari yang lain menandakan dia sudah berada tepat di dekatku.


Wajahnya seputih salju, walau aku tidak pernah melihat salju. Rambutnya yang hitam itu warnanya sama dengan 'Al' dari masa depan. Hitam, seperti radiasi benda hitam sempurna, cahaya yang terpantul dari rambutnya tidak terlihat sama sekali.


"Di mana?"

"Terserah Anda," Jawab 'Al'.

"Hau! Hau! Al kecil mau digigit,"


Di-di gigit?!

"Aku lebih suka menggigit leher, lebih romantis..."

Suara itu seakan terdengar langsung dari dekat telingaku.

Seperti suara Megabass yang menggetarkan jantungku.


Wajahnya perlahan mendekatiku.


Seakan dia menggodaku, dia berhenti tepat di depan mukaku. Meski mungkin kenyataannya hanya berlangsung beberapa detik, rasanya seperti berjam-jam.

Dan setelah itu bibirnya yang dingin menyentuh leherku.

Harum rambutnya menyengat hidungku.



Dan 'itu' terjadi sangat cepat...


"GAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH!!!!!!!!!!!"


AKu berteriak sekuat tenaga. Bukan karena minta tolong, tapi rasa sakitnya tidak tertahankan.

Segera setelah 'gigi'nya menancap di leherku, tubuhku bereaksi dengan sangat hebat.


"AAAAAAAAAAAAGGHGGGGGHHH!!! SAKIT!! SAKIT!! HENTIKAAAN!! AAAAAGGGH!!"

Aku tidak pernah berteriak seperti ini. Meski aku pernah ditembak peluru, meski jemariku pernah hancur aku tidak pernah berteriak seperti ini seakan aku memohon untuk diselamatkan.

"AAA...AAAAAAAGHGGGGG HENTIKAN! HENTIKAN!!"


Percuma, usahaku sama sekali tidak membuahkan hasil.


Rasa sakit luar biasa ini membuat kepalaku tidak bisa berpikir lagi,

Duniaku sekali lagi menjadi hitam...




....



Aku terbangun dari rasa sakit ini entah untuk keberapa kalinya.

Kali ini tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan semilimeter pun.


"Huh! Kenapa kau menggigit di leher? Rasanya sakit sekali sampai dia pingsan, kan?"

Suara itu suara Karin. Kenapa dia kembali lagi ke sini?

"Sudah kubilang karena dengan cara ini lebih romantis dan lebih berseni, Hihihi"

Suara itu suara wanita yang 'menggigitku'

"Dulu aku juga merasakannya,"

Suara ini suara 'Al' dari masa depan.

"Hau hau, kasihan, untung Nana kecil tidak bangun, untung diberi obat tidur,"

Suara ini suara 'Eve' versi mini.


Pandanganku hitam. Aku hanya bisa mendengarkan mereka.


"Ok, tugasku sudah selesai. Jarang-jarang Tuan Al meminta permintaan pribadi seperti ini,"

"Terimakasih,"

"Hau, Kakak Raja Vampire, terimakasih!"

Va-vampire?

"Heh, Ratu Vampire, nak" Jawab wanita itu.


Vampire?! Sial! Mana ada yang seperti itu?!

"Tapi aku lebih suka menyebutmu alien, hihi" kata Karin.


A-alien?!



***

Suara disekitarku menghilang...


Bahkan suara nafas Nana pun menghilang.

Sepertinya dia dibawa pulang oleh Karin.



"Ingat pesanku..."


Suara milik 'ku' tiba-tiba terdengar. Ternyata dia masih berada di dekatku




"Aku bisa melewati semua ini, Kau pasti juga bisa,"


Meninggalkan kalimat ambigu itu suara langkahnya terdengar menjauh dariku.

Setelah itu duniaku kembali gelap dan sunyi.



.......................



..........



....



"Begitu aku bangun, aku sudah ada di rumah," Kataku mengakhiri penjelasanku pada Eve setengah berbisik.


Eve terlihat kaget. Tapi dia menjaga ketenangannya.

"..."

Eve terdiam.

"Ja-jadi?" Tanyaku setelah kesunyian tadi berlangsung cukup lama.


"Saya akan memberitahu Tuan Isaac, Nona Sabrina, dan Nona Karin,"

Orang-orang yang baru saja di sebut Eve tentu saja bukan orang yang sekarang berada di depan kami, tapi para petinggi Organisasi.

"Juga, jangan beritahu Aisa,"

He? Kenapa?

"Saya mohon,"

A-aku mengerti...



"AAAH!!! KENAPA KAU DI SINI?!"

Suara teriakan Kak Rossa memecahkan konsentrasi pembicaraan kami.


Ternyata sumber masalahnya tidak lain adalah Karin yang tiba-tiba berdiri di depan kafe tujuan kami. Dia juga bersama teman Nana yang super tinggi itu.

"Hai! Hai! Sepertinya ramai sekali,"

"Se-se-selamat pagi!"




Dan begitulah ceritanya, Karin dan Tifa pun ikut bergabung dengan kami.



"Ehm! Meski ada 3 tamu yang tidak di undang, ketua ekspedisi ini adalah aku! Jadi tolong dengarkan baik-baik!"

Memangnya kita mau menggali mumi?! Tolong gunakan kata yang tepat di saat yang tepat.



"Ehm! Ini adalah tujuan pertama kita! Cafe Java Rock! Kafe ini seperti yang kalian tahu, baru saja buka. Artinya kita mendapat harga promosi. Selain itu, pamanku yang memiliki Kafe ini. Jadi kita mendapat diskon kroni!"

Sudah kubilang gunakan kata yang tepat.

"Al minus 10! Menyela ketua saat sedang berbicara!"

Terserah, mau sampai minus satu milyar pun aku tidak peduli. Biasanya juga aku yang kau suruh-suruh.

"Huhuhu! Naif sekali kau anak muda! Kalau kau mendapat minus 100, kau harus membayar denda!,"

Aku yakin aturan itu juga baru saja di pikirkan.


"Ehm, jadi... Sekarang kita mendapatkan kesempatan menikmati hidangan dengan murah! Silahkan masuk! Silahkan masuk!"






Kafe ini standar, seperti kafe-kafe lainnya. Yang membuatnya berbeda adalah nuansa Jawanya dan beberapa tulisan petunjuk dan menu yang menggunakan tulisan Jawa.


"Ha-ha-ha..." Kak Rossa berusaha mengeja menu yang dipegangnya.

"Bacanya Apel Jus, Apple Juice. Meski tulisannya Jawa, tapi sepertinya cara bacanya Indonesia atau Inggris," Kata Isaac mengintip menunya.

"Wow! Kau bisa baca tulisan ini?" Karin terkagum-kagum.

"A-aku ti-tidak hapal hurufnya," Kata Tifa ikut melihat Menu yang sudah ditaruh di meja oleh Kak Rossa,


"Aku bisa baca huruf dasarnya, tapi kalau sudah pakai pasang-pasangan aku pusing," Bahkan Nana pun menjadi tertarik

"Mana! Mana! Mana!! Uwah! Hurufnya seperti cacing... Kak Isaac! Ini bacanya apa?" Aisa pun ikut berbaur.

"Itu bacanya, Nasi Goreng..."

"Unik sekali," Si pendiam Eve bahkan ikut tertarik.

"Isaac! Ajari aku cara bacanya!"

"Hahaha, poin kita sama, Rossa. Aku tidak menerima perintahmu," Isaac sedikit menggoda.

"Khuhuhu! Menolak perintah Ketua, minus satu poin,"

"Sepertinya aku tidak bisa menentangmu," Kata Isaac terlihat sama sekali tidak menyesal. Tentu saja, dia hanya dikurangi 1 poin.




"Isaac sialan, dia seperti magnet wanita," Kata Iwan menggerutu.

"Kita tidak bisa bersaing dengannya kalau sudah masalah membuat para gadis kagum," kataku tersenyum pahit.


Sementara Isaac dikelilingi para Gadis di sudut satunya, aku dan Iwan hanya bisa melihatnya dari dekat.



"Bagaimana kalau sekarang kita rebut perhatian nona-nona ini?!"

"Percuma, ide darimu lebih baik dihindari. Aku tidak percaya pada idemu,"

"Kita rebut dengan cara-cara yang bisa kita lakukan melawan Isaac yang pintar,"

"Aku yakin seratus persen kalau idemu adalah melawak,"

"Ka-kau bisa membaca pikiranku?!"

"Tolong, reaksimu berlebihan. Dari otakmu yang hanya bisa menghasilkan ide jangka pendek itu aku yakin, Idemu adalah menarik perhatian dengan melawak. Percuma, lawakanmu garing,"

"Ugh! Kalau melawak tidak bisa, aku akan menarik perhatian mereka dengan sulap! 90% Persen Gadis Remaja akan terpikat dengan Sulap!"

Aku diam saja. Aku bertaruh kegagalan Iwan akan terjadi kurang dari 30 detik,



"Nona-nona! Izinkan, Saya, Iwan, The Monster Illusionist! Menampilkan kebolehan saya dalam bersulap!" Iwan mengawalinya dengan berdiri dan mengeluarkan koin dan sapu tangan.


Isaac, Kak Rossa, Nana, Aisa, Eve, Karin dan Tifa seketika menoleh ke arah Iwan.

"Hee! Kau bisa sulap, Wan? Coba perlihatkan," Isaac sepertinya tertarik dengan ide Iwan.

Iwan lalu tersenyum ke arahku seakan berkata 'Khhuhuhu, sesuai rencana'.


"Ehm! Lihat koin ini! Aku taruh di atas tanganku... Kita tutup dengan kain dan... Simsalabim! Tada!!"


Koinnya benar-benar hilang! Aku terkejut. Tapi tentu saja, itu hanya berlangsung beberapa detik karena suara dentingan koin jatuh terdengar sangat keras.


"..."

"...tidak lucu, ya?" Kata Iwan.



"Ah, ternyata memang kau mau melawak," Kataku menyadari sesuatu.

"...Leluconnya terlalu garing sampai rasanya aku tidak bisa tertawa untuk beberapa jam ke depan," Kata Kak Rossa.

"Barusan aku kehilangan nafsu makanku..." Susul Nana.


Aku hanya bisa menatap iba Iwan.

"Apa?! Aku tidak butuh belas kasihanmu!" Katanya setelah melihatku.


"Bfft-"

Semua orang berusaha mencari sumber suara itu.

"Bfft-- Kyahahahaha ahahahaha! aahahahaha!!! Ah- ah- ahaha,..." Ternyata masih ada orang yang bisa tertawa lepas setelah melihat lelucon super garing itu. Tidak lain dan tidak bukan adalah Karin.


"Karin, tidak usah memaksakan diri untuk tertawa, aku tahu dia mantanmu..."

"Kyahahahaha....ahaha pe-perutkusakit..." Tapi sepertinya Karin benar-benar tertawa sampai terlihat lemas.


Melihat Karin tertawa akan leluconnya, Iwan terdiam lalu kemudian di duduk menutupi wajahnya yang memerah padam.



"Ngomong-omong, kita belum memesan makanan," Kata Isaac mengalihkan perhatian.

"Ah benar juga,"

Kak Rossa kemudian mengambil kertas pesanan. Dia menulisnya lalu menyerahkannya searah jarum jam. Diikuti oleh Isaac, Aisa, Eve, aku, Iwan, Tifa, Karin lalu Nana, dan kembali ke Kak Rossa lagi.

Aku tidak merasa lapar, jadi aku hanya memesan kopi,


"Ok. Jadi pesanannya ini... ini...

Dipikir-pikir yang seleranya aneh cuma, Al..." Kata Kak Rossa melihat ke secarik kertas yang berisi pesanan.

"Jangan membuat kesimpulan seenaknya seperti itu,"

"Tidak, sungguh. Kau memesan Jus Sayur Ekstra Omega Pahit?"

Eh? Aku memesan kopi.

"Tapi lihat, kau mencoretnya dan memesan Jus Sayur Ekstra Omega Pahit,"


"Pasti ada yang menggantinya, Pasti kau Iwan!" kataku menunjuknya.

"E-enak saja! Aku tidak mungkin sejahil itu,"

Melihat ekspresinya, aku jadi tidak yakin pelakunya Iwan. Dia duduk di sebelahku jadi aku melihat apa yang dia pesan.

Artinya pelakunya antara Tifa, Karin dan Nana...

"Huhuhu ini menarik! Coba tebak pelakunya, Al! Tebak satu kali! Kalau kau benar pointmu plus 50!" Kata Kak Rossa dengan nada memerintah.

"Boleh! Akan kepecahkan kasus ini!!"

"Kalau kalah, kau harus memainkan permainan hukuman!"

"Oke!"


Aku menatap ketiga orang 'tersangka'.

Tifa... melihat gerak-geriknya, dia tidak akan berani melakukannya. Karin, dia jahil, aku paling curiga dengannya. Sedangkan Nana... dia juga mencurigakan.

"Baiklah! Detektif Al, perlihatkan kemampuanmu," Kata Kak Rossa memanas-manasi keadaan.


"Aku bertaruh kue coklatku, Al gagal menebak pelakunya," Kata Iwan mendorong Kue Coklatnya ke tengah meja seperti pejudi yang mendorong chip pokernya.

"Aku bertaruh Kak Al berhasil! Aku pertaruhkan Waffle ku!" Aisa mendorong wafflenya ke tengah meja menjadi taruhan.

"Aku bertaruh ...Al berhasil," Eve mendorong kentang gorengnya ke tengah.

"Aku pertaruhkan 100 poinku dan Salad ini! Al tidak akan berhasil!," Kata Kak Rossa dengan percaya diri.

"Aku bertaruh Al tidak berhasil memecahkannya... Hahaha," Kata Isaac mendorong jus mangganya.

"Uwhoh! Ini semakin seru!," Iwan terlihat senang melihatku menderita.


"Baiklah silahkan mulai! Sebelum itu, aturan Knox Decalogue! Game ini berlaku aturan sebagai berikut.

Knox Pertama : Pelakunya tidak mungkin orang luar!

Knox kedua : Tidak mungkin pelakunya setan atau makhluk supernatural!

Knox ketujuh : Tidak mungkin detektif adalah pelakunya. Artinya Al bukan pelakunya. Kalau pelakunya Al, game ini tidak sah!" kata Kak Rossa seakan berperan sebagai Moderatornya.



Hm... Tifa akan kukeluarkan dari daftar tersangka. Sangat tidak mungkin pelakunya adalah Tifa. Maksudku, gadis pemalu itu tidak mendapatkan apapun dari menjahiliku...

Yang tersisa adalah Karin dan Nana.


"Kak Rossa, aku meminta kesaksian Kak Rossa! Apa kakak melihat gerakan mencurigakan?!"

"Buat apa aku membantumu, aku kan bertaruh kau kalah," Kata Kak Rossa tanpa dosa.


"Sial, kalau begitu orang yang bisa kupercaya hanya orang yang bertaruh untukku,"

"Kak Al, aku melihat Nana bertingkah aneh tadi saat menulis!," Kata Aisa segera.

"Hee? Aku tadi bingung," Nana berusaha membela diri.

"Kak Karin menghabiskan waktu yang sangat lama saat memilih," Eve juga membantuku.

"Aku tadi bingung mau memilih apa..." Kata karin juga membela diri.


"Hei Al, aku tadi melihat Tifa menulis dengan sembunyi-sembunyi..." Kata Iwan berbisik.

"Baik, kalau begitu jelas pelakunya bukan Tifa. Orang yang tidak bertaruh untukku sudah pasti menjebakku" Kataku


"Tunggu dulu Al, Iwan sudah tahu kalau kau akan berpikir seperti itu. Jadi dia sengaja menunjukkan pelaku yang asli," Kata Isaac sambil tersenyum.

"Huh! Aku tidak percaya Iwan akan melakukan serangan psikologis macam itu."

Isaac terlihat senang dengan jawabanku.



"Pelakunya adalah... Nana!" Kataku menunjuk Nana.

"Haee! Aku?!"

"Ya! Kamu! Berdasarkan kesaksian Eve, Karin memilih lama. Mengetahui kebiasaan Karin dia tidak akan sempat melakukan kejahilan itu karena dia terlalu berkonsentrasi saat memilih makanannya. Sedangkan kau memilih dengan cepat karena kau dari awal sudah merencanakan ini semua!"

"U-untuk apa aku melakukan itu?" tanya Nana membela diri.

"Huhuhu! Kau menginginkanku meminum Sayuran Pahit itu karena aku baru saja keluar dari Rumah Sakit... karena khawatir aku minum kopi kebanyakan, kau mengganti pesananku! Akui perbuatanmu!,"


Seluruh meja kami terdiam beberapa saat.


"Khuhuhu..." Nana tertawa.

Kalau ini cerita detektif biasa, ini saatnya Pelakunya tertawa setengah menangis sambil mengakui kejahatannya.


"Just as Planned... Kak, kau kalah, Khuhuhu"

"He? bagaimana kau bisa tahu? Akui saja perbuatanmu!,"

"Bagaimana aku bisa tahu? Karena aku tahu pelaku sesungguhnya!,"

Apa?!

"Pelaku sesungguhnya adalah... Kak Rossa!!,"


"Kyahahahahahahahahaha tertipu!!! Ahahaha! AHahaaha AHahah!,"



Ternyata semua orang sudah tahu kalau pelakunya adalah Kak Rossa. Mereka membuat panggung seakan tersangkanya hanya Tifa, Karin dan Nana. Sial, dari awal semua orang berkonspirasi membuat detektifnya kalah.


"Ahaha... Dengan ini Al harus memainkan permainan hukuman..."



DEG! DEG! DEG! DEG!


Tiba-tiba jantungku serasa ingin keluar lewat mulutku. Nafasku sesak seakan udara di sekitarku menjadi padat.

UGH! Perasaan apa ini? Dadaku terasa sakit! Punggungku merinding! Sial! Kenapa tubuhku...


"Kenapa kau Al? Mual?" Tanya Iwan.

"Ti-tidak,"

"Al matamu... merah..." kata Isaac.

Hah? Merah? Tapi memang rasanya pandanganku semakin tajam dan jauh...

"KAK AL-" Aisa bangkit melihat mata merahku.

Tapi Eve menghalanginya dan menyuruh Aisa duduk kembali.

"Kak Al baik-baik saja,"

"Tapi Eve!! Kak Al-"

"Dia baik-baik saja, Aisa..." Kata Karin dengan nada dingin.

Aisa terlihat putus asa mendengar kalimat Karin. Tentu saja, Karin adalah dokter dan petinggi Organisasi.

Kepalaku terasa sakit... Agh! Kenapa ini?!

"A-al... Kau baik-baik saja?" Kata Kak Rossa terlihat sedikit khawatir.



DUAR!!!!!!!



Dan tiba-tiba suara memekakkan telinga terdengar...


Sumber suaranya seakan ada di dekat kami...



***






Aku bangkit.


Hanya aku yang bangkit.


Entah kenapa hanya aku yang bangkit.


Kenapa hanya aku yang bangkit keluar dari reruntuhan ini?


Kenapa aku bisa bangkit keluar dari reruntuhan ini?



Semua orang tergeletak tak bergerak.



Isaac tergeletak. Tubuhnya tertindih reruntuhan. Begitu juga Aisa.

Aku tidak melihat yang lainnya.



Tapi aku yakin mereka ada dibawah reruntuhan ini



Awan hitam kelam menyelimuti langit.


Apa ini simbol kemarahan Tuhan?


atau ini perbuatan manusia yang bermain-main menjadi Tuhan?



Pemandangan gersang terhampar di depan mataku.


Satu hal yang terbersit di benakku.


Ini kiamat.


Apa ini kiamat?


Mana mungkin kiamat.


Karena seorang pria berjas hitam berdiri tegak di tengah seluruh puing-puing hancurnya peradaban ini.


Wajahnya tersenyum ringan melihatku.


Tapi tentu saja aku tidak membalasnya dengan senyuman.



Rasa sakit juga menyelimutiku walau tak seberapa dibanding saat leherku digigit alien vampire kemarin.


Tangan kananku tidak ada. Lenyap tidak tersisa.


Karena dalam sepersekian detik reflekku aku berusaha melindungi teman-temanku dari cahaya yang menghancurkan itu.


Apa mereka selamat?

Apa dengan mengorbankan sebuah tanganku, semua temanku akan selamat?


Aku kembali menatap pria itu dengan tajam.


Pandagan mataku lebih tajam dari biasanya. Apa ini akibat mata 'merah' tadi?



Tapi dia tersenyum.


Tersenyum penuh arti lalu berkata.



"Maaf,"

==========


Next! Final Chapter, Jump Vol 1!!!

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apa semua hubungan ini semua dengan insiden sebelumnya?

Siapa orang sableng yang tiba-tiba muncul?

Kenapa dia meminta maaf?!

Temukan jawabannya di otak anda!

Atau anda bisa menunggu sampai saya menyelesaikan chapter 11!

======================================

Author Note : wew, sudah sejauh ini...

Rilis Chapter 1 yang sudah di edit mungkin dalam minggu ini

2 komentar:

Neohybrid_kai mengatakan...

wooogh, keren O__O
*battlershock.jpg*

benar-benar speechless, mulai dari referensi huruf jawa, sub-detective game, sampai vampire, LOL

makin njelimet aja sepertinya, saya harap anda bisa keluar dari closed room bikinan sendiri, ekspektasi saya udah mulai membesar lho

Anonim mengatakan...

'Temukan jawabannya di otak anda!'

hmmm... jawabannya.. karena pengarangnya menginginkan begitu!

.
keren! biarpun masih ada typo sedikit.