Chapter 01 - You can't trust what you see before you gain local shared recognition.


Seminggu setelah memasuki tahun ajaran baru tubuhku masih belum bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan bangun siang saat liburan. Seperti terikat dengan rantai berbola besi yang dipakai narapidana, aku menyeret tubuhku menuju sekolah.

Sudah sejak setahun lalu aku melakukan rutinitas membosankan bernama berangkat sekolah. Berangkat dari rumah ke sekolah membutuhkan waktu 20 menit. Setelah mengkalkulasi cepat mengandalkan otakku yang tidak terlalu encer aku mendapatkan bahwa waktu yang aku habiskan untuk bolak-balik sekolah selama setahun sama dengan empat belas ribu empat ratus menit.

"Itu karena kakak menghitung satu bulan 30 hari penuh tanpa memperhatikan hari libur. Selain itu kakak mengkonversikannya menjadi menit sehingga nominalnya terlihat banyak kenyataannya waktu yang kita butuhkan tidak lebih dari 10 hari pertahun. Sama seperti satuan Electron Volt, meskipun energi yang dihasilkan suatu particel accelerator terkuat di dunia mencapai 14 Terra Electron VOlt. Terlihat banyak, kan? 14000000000000 Electron Volt, tetap saja setelah kita konversi ke Satuan Internasional tetap tidak sampai 224 micro Joule. Jadi ini masalah nominal"

Suara mungil menyebalkan dan sok pintar yang keluar dari arah belakang punggungku tidak lain dan tidak bukan adalah suara adik perempuanku satu-satunya. Tubuhnya yang bahkan tidak bisa mencapai pundakku itu melangkahkan kakinya dengan ritme yang hampir sama denganku.

"Harusnya aku mengkonversikannya menjadi detik. Karena itu standar internasional," lanjutku.

"Tapi tetap saja 840000 detik adalah 10 hari."

Wow. Cepat sekali kau dalam berhitung. Coba kau ke tim guiness book of record dan patahkan rekor Seseorang yang dinobatkan menjadi manusia kalkulator.

"Ah tidak juga. Itu karena angkanya mudah."


Setelah beberapa meter menjelang gerbang sekolahku aku mulai membereskan pakaianku yang keluar dan tidak rapi. Penjaga gerbang sangat ketat kalau masalah ini bahkan melebihi ketatnya penjagaan rumah Presiden.


"Hm. Meskipun sudah 1 minggu terlewat, Deg-degan juga. Aku tidak percaya aku bisa diterima di AGS," Adikku mengatakan ini dengan suaranya yang bersemangat seperti pria pengangguran yang baru dapat kerja.


Ah, ngomong-omong, AGS yang dibicarakan adikku adalah All Girls School. Dan sesuai makna literalnya AGS adalah sekolah khusus untuk perempuan. AGS sekolah cukup elit dan bermutu.

Dan alasan aku berjalan searah dengan arah sekolah baru adikku adalah karena tentu saja sekolahku berada disebelah AGS persis.

ABS.

All Boys School
. Berlawanan dengan AGS, ABS adalah sekolah khusus laki-laki dan sebenarnya masih merupakan satu yayasan dengan AGS. Aku tidak mengerti alasan pasti mengapa mereka repot-repot membangun sekolah khusus laki-laki dan perempuan terpisah seperti ini. Tapi memang ABS cukup keras.


Mengajari wanita dengan kelembutan dan laki-laki dengan kedisiplinan, huh?

Mungkin mereka berpikir lebih mudah mengontrol dengan cara seperti ini,


Ah. Tahun ini adalah tahun pertama adikku masuk ke SMA. Alasan kenapa manusia berjenis kelamin perempuan yang bisa masuk Kelas 10, satu kelas dibawahku, padahal jarak usia kami hampir 3 tahun karena dia adalah jenius.


Jenius karena dia tidak mengalami masa TK dan Melompat kelas saat SD. Untung dia tidak melompat kelas saat SMP. Kalau sampai dia melakukan itu, kami sekarang duduk di kelas yang sama.



"Kenapa? Memang Kakak tidak suka sekelas dengan ku?"

Adikku bertanya seakan benar-benar menganggap pernyataanku serius.

"Tidak. Kau tahu, rasanya sedikit aneh" Kataku tanpa arti.

Tapi sepertinya adikku memikirkannya dengan serius seakan nyawanya sedang dipertaruhkan. Jemarinya bertengger di pipinya seperti dalam mode berpikir keras.



"Oo~iii! Al!"

Kali ini suara lelaki yang cukup familiar menggetarkan gendang telingaku.

Seorang pemuda seumuran denganku menghampiri kami dengan kecepatan berjalan di atas rata-rata alias berlari.

Oh, ngomong-omong Al adalah aku. Nama panggilan itu muncul karena namaku terlalu sulit untuk diucapkan sehingga teman-temanku memutuskannya begitu saja di suku kata awal. Aku tidak terlalu peduli karena panggilan itu cukup keren.


"Yo!" Jawabku dengan singkat.

"Apanya yang "yo"! Sudah selesai belum?"

Kata temanku itu dengan sedikit melipat alisnya.

"Oh. Kliping sejarah musik klasik? Sudah. Nih" Kataku sambil mengeluarkan kliping yang sudah tertata rapi.

"Ah! Terselamatkan!"

Kata temanku itu dengan nada seperti seorang pendaki Mount Everest yang mencapai puncak.

"Ah, Pagi Nana, Hari ini kau terlihat bersemangat,"

"Selamat Pagi, Kak Iwan." Jawab adikku sopan.



"Hei Al, sudah dengar berita terbaru?"

"Berita terbaru?" Kataku tidak antusias.

"Kau tahu, ternyata semua ini adalah konspirasi. Sebenarnya Al-Qaeda adalah organisasi fiktif yang di bentuk Amerika! Aku tahu ada yang aneh dari dulu, kenapa kantor berita *** bisa selalu up to date kalau masalah terorisme..."

Yah, yah terserah kau.

Iwan dan berita Hoax nya. Entah dari mana dia dapat berita-berita konyol itu, tapi yang jelas dia selalu membawa berita yang aneh dan sulit dipercaya.

"Kau terlihat tidak tertarik," Kata Iwan setelah melihat ekspresiku.


Jujur saja... Tidak.


"Dasar membosankan. Nana, bagaimana menurutmu?"

"Kalau benar begitu pasti menarik. Tapi bukti-buktinya memang sudah cukup kuat? Mungkin saja berita itu dibuat-buat para penggemar teori konspirasi."

Kata Nana menjelaskan pemikirannya sambil mengacungkan sebuah telunjuk.

"Hm~"

Pernah ada orang bilang berita itu adalah sesuatu yang ingin kita dengar. Tidak perlu dibahas, tapi berita-berita semacam itulah yang masuk kategori "yang ingin kita dengar". Tipikal berita yang bakal hangat dan cepat tersebar di masyarakat.

"Kalau begitu aku kemarin baca di Internet kalau sebenarnya Mesin Waktu sedang dalam ujicoba oleh CE**."

Siapa?

"CE**. Badan fisika partikel di Eropa! Mereka sedang memaksimalkan efisiensi energi yang digunakan!" Kata Iwan bersemangat.

Kalau tidak salah bukankah mereka sedang sibuk mencari cara memproduksi anti-hidrogen dengan efisien?

"Tentu saja mereka merahasiakannya! Ini adalah TOP SECRET! Mereka menutup-nutupinya dari muka umum karena mereka menganggap manusia sekarang belum cukup bijaksana menggunakannya,"

Oh ya. Hoax lagi. Kalau itu TOP SECRET bagaimana mungkin itu bisa bocor ke tangan pemuda maniak teori konspirasi sepertimu. Setidaknya mereka akan menangkapmu dan menghilangkan memorimu. Itu pun kalau mereka punya alat penghilang ingatan seperti di Man-In-Black.


"Ah, Bagaimana menurut Nana?"

"Menurutku? Bagaimana ya..." Nana mengeluarkan ekspresi minta maaf.

"Aku bukan termasuk orang yang percaya penjelahan waktu itu mungkin,"

Aku juga perlu diikutkan. AKu juga tidak percaya.




"Kalau kita bisa menjelajah waktu, bukankah itu curang?"




Aku tidak sempat menanyakan kenapa menjelajah waktu curang karena aku dan adikku harus berpisah di depan gerbang ABS. Setelah bersalaman dan mencium tanganku, kami berpisah.




"Apa yang baru saja terjadi?"



Apa maksudmu?



"Kenapa Nana mencium tanganmu?!" Kata Iwan dengan sedikit kesal.

Hah? Kenapa? Karena dia adikku.


"Tidak. Kenapa dia SUNGKEM padamu?!"

Dia menambahkan tekanan pada kata khusus tadi.


"Bukankah kau juga melakukannya di rumah?" Tanyaku.

Adik perempuanku selalu sungkem padaku kalau kami berpisah atau baru bertemu.

"TIDAK! Keluargamu memang aneh Al. Adikku tidak pernah menjabat tanganku dan lalu menaruh dahinya di tanganku! Hal itu cuma boleh dilakukan oleh Orangtua dan anak atau Suami Istri!"

Be-begitukah? Kalau begitu aku akan bilang pada Nana untuk menghentikannya.

"Benar! Karena Nana terlalu sempurna untuk jadi adikmu! Sini buat aku!"

Enak saja!

Dan pertengkaran kami tentang adik perempuan terus berlanjut sampai depan gerbang ABS.



Untungnya kami bisa melewati pintu gerbang tanpa harus dihadang Seksi Kedisiplinan. Tidak ada yang tahu hukuman macam apa yang kau dapat jika kau terjaring dalam jaring-jaring mereka.

Saat kami melalui gerbang, kami disambut beberapa anak tingkat 1 yang pagi-pagi sudah menyapa kami dengan keras dan bersemangat.

"Selamat pagi, Senior!"



Ah. Rasanya enak juga jadi senior. Dulu saat kami tingkat 1 juga melakukan hormat macam ini pada senior kami.

ABS memang menganut sistem senior-junior karena itu tentu saja aturan main pertama adalah senior selalu benar.

Walau aku secara pribadi tidak pernah mengalami hal macam menyalahgunakan kesenioran tapi tetap saja melihat senior yang sombong dan sok itu menyebalkan. Sebisa mungkin aku tidak ingin menjadi senior yang seperti itu.

"Selamat pagi," jawabku dengan ramah.


Setelah lelah menjawab salam dari beberapa kumpulan murid tingkat 1 yang masih mengikuti masa orientasi akhirnya aku dan Iwan sampai dengan selamat ke kelas kami.


Namun aku tidak ada banyak urusan di kelas. Selain karena sekarang masih masa orientasi dan pelajaran belum efektif, aku punya tanggung jawab cukup besar yang dibebankan padaku.

"Hei, mau kemana, Al?" Tanya Iwan setelah melihatku berdiri dari tempat dudukku.

"Perpustakaan," Jawabku singkat.


"Ah, benar juga. Kau adalah Komite Elite Perpustakaan,"


"Aku tidak pernah dengar ada kata "Elite". Komite Perpustakaan, titik." kataku mengoreksinya.


"Ah~ Pasti enak ketemu gadis-gadis AGS tiap hari ya? Aku iri~"

Pemikiran kolot. Dasar tidak tahu betapa beratnya menjadi komite perpustakaan.

Tapi masalah bertemu gadis AGS setiap hari itu memang benar.


Perpustakaan ABS dan AGS adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan para murid di sini. Karena perpustakaan merupakan salah satu pintu gerbang yang menghubungkan kedua sekolah.

Perpustakaan tersebut sangat besar dan hampir sempurna koleksi buku-bukunya. Setidaknya untuk sebuah perpustakaan sekolah. Sampai-sampai masyarakat umum juga memuaskan kebutuhannya akan literatur di perpustakaan kami.

Tapi tentu saja daya tarik bagi murid-murid adalah letak strategis perpustakaan tersebut. Letaknya ditengah membelah AGS dan ABS. Sangat sempurna untuk apa pun yang mereka sebut dengan ketemuan.

Rumornya setiap tahun, 100 pasangan lebih terbentuk perpustakaan ini. Walaupun aku tidak percaya rumor sedikit pun, karena orang lain membicarakannya aku jadi mengingatnya dan tidak sengaja menyimpannya di dalam otak. Kalau belum ada Ilmuwan yang memberi nama tentang kemampuan otak yang seperti ini, aku akan memberikan nama "Auto-Remember System". Keren.

Untuk administrasinya sendiri, perpustakaan kami benar-benar diserahkan penuh pada murid. Dengan slogan yang sedikit meniru slogan Abraham Lincoln, "Dari Murid, Oleh Murid, dan Untuk Murid" menunjukkan bahwa suksesnya perpustakaan adalah di tangan murid.

Dan tentu saja tidak semua murid. Bayangkan saja jika manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab juga ikut mengelola. Jadi tentu saja perpustakaan memiliki wakil dari murid yaitu Komite.

Komite ini terdiri dari 3 orang murid tingkat 2 dan 3 murid tingkat 1, kuota tersebut untuk kedua sekolah. Jadi bisa saja tiga-tiganya dari AGS atau sebaliknya atau mungkin di campur.

Walaupun begitu, pemilihan anggota komite tidaklah sembarangan. Tidak melalui cara yang tidak adil seperti Voting. Tidak bisa mempercayakan voting karena aku yakin para murid AGS akan memberikan seluruh vote nya untuk cewek yang manis. Aku bahkan tidak habis pikir kenapa sistem ini ada, mereka menyama ratakan suara orang jenius dan bijak dengan orang brengsek dan tolol.

Jadi singkat cerita, pemilihan Komite Perpustakaan adalah dengan wawancara. Menimbang kredibilitas seorang calon komite yang dilakukan oleh Komite Perpustakaan yang sudah senior. Subjektif? Memang.

Dan sekarang, aku baru saja akan berangkat melakukannya. Dan dengan rasa biasa-biasa saja aku mengatakan bahwa aku adalah salah satu senior tersebut.



"Oh, ya. Al!"

Iwan memanggilku sebelum aku meninggalkan kelas.

"Ada apa?"

"Titip ini,"

Iwan lalu melemparkan sesuatu ke tanganku.


"Ini..."

"Tolong berikan ke Karin, ya!"


***

"Mau mati?"


Tidak terimakasih.


"LALU KENAPA KAU TELAT!!"

Biar aku jelaskan situasinya.

Di depanku berdiri seorang gadis yang setingkat denganku. Kalau kau sudah mendengar setting yang dari tadi keberikan, berarti harusnya kalian sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa dia dari AGS. Dan dengan sedikit praduga mungkin kalian juga berkesimpulan bahwa dia adalah salah satu dari Komite.

Kalau kalian bisa menduga sampai situ biar aku traktir bakso di kantin kalau aku punya uang. Tapi bukan itu masalahnya sekarang.

Gadis yang sekarang sedang menaruh tangannya di pinggang memandangku dengan mata yang sangat tajam yang mungkin bisa membuat tuyul tidak jadi mendekati rumahmu.

Sebenarnya aku tidak bisa dimasukkan kategori telat karena ini baru 2 menit lebih dari waktu perjanjian. Bukankah ada toleransi 5 menit. Toleransi 5 menit itu sudah Standar ISO.

"2 Menit! Kalau kau kumpulkan 2 menit itu setiap hari lama-lama bisa menjadi satu jam! Aku tidak menggajimu untuk terlambat 2 menit!"

Ya. Aku tahu. Karena yang memberi kita upah adalah sekolah bukan kau. Tapi aku tidak mengatakannya karena itu sama saja menyiram bensin ke api.


"Ya sudah. Kau sudah siap?"

Siap tidak siap, aku tetap siap.

"Bagus,"


"Kak Rossa, mana Isaac?"

Oh. Aku memanggilnya Kak karena dia lebih tua dariku. Memang tidak biasa memanggil teman yang satu tingkat dengan mu dengan Kak bagi laki-laki. Seharusnya dia sekarang sudah tingkat tiga, tapi karena satu dan lain hal, dia berhenti sekolah satu tahun. Jangan berpikir dia tinggal kelas, karena dia super pintar. Jadi kemungkinan berhubungan dengan masalah keluarga.


"Isaac ada di depan, Suruh dia masuk. Kita hampir mulai."

Rossa mengatakan ini sambil bersiap dan membenahi pakaiannya.

Aku segera ke depan dan menemui Isaac.


Dan sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang yang aku kenal.


"Yo Isaac!"

"Oh, itu dia"

Isaac mengatakan ini seakan sudah menunggu kedatanganku. Aku lalu memberikan salam pada seseorang yang aku kenal itu.

"Yo, Karin. Ini ada titipan dari Iwan,"

Aku memberikan barang tersebut pada Karin. Barang tersebut tidak lain adalah kliping sejarah musik klasik yang kemarin aku buat.kliping tersebut.

"Makasih, Al!"

"Ngomong-omong, apa itu?" Tanya Isaac penasaran.

"Ini tugas kesenianku, Aku kira Iwan lupa dengan PR ku..."

Dan dia memang lupa. Sehingga malam-malam dia menelepon seseorang untuk menyuruhnya mengerjakannya sambil mengatakan kalau ini adalah masalah hidup dan mati. Dan seseorang itu adalah aku. Lalu akhirnya terpaksa aku mengoogle Bach, Mozart dan kawan-kawannya lalu mengkliping seadanya.Tapi aku tidak mau menjatuhkan pamor teman di depan pacarnya, Jadi aku diam saja. Seharusnya sekali-kali aku boleh bangga dengan jiwaku yang solider terhadap teman.


Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya aku dan Isaac kembali ke dalam dan mempersiapkan apa yang harus kami lakukan selanjutnya.



"Pasti itu kau lagi yang mengerjakan ya?"

Oh ya.

"Kenapa tidak kau suruh si Iwan mengerjakan sendiri," Kata Isaac sambil membenahi banner di meja kami.

"Dia minta dengan tiba-tiba begitu, Aku juga tidak bisa menolak."

"Nanti dia ngelunjak kalau dibiarkan terus"


Iya, Iya.


"Kak Rossa sudah di dalam?"

"Katanya kita suruh ke ruang wawancara langsung. Kau sudah mempersiapkan "itu", kan?"


Isaac hanya tersenyum dan mengangkat jempolnya.


"Ngomong-omong, Nana ikut?"

Ikut. Kenapa tanya?

"Ah, tidak"

***

"Lalu suara apa ini?"

Aku menekan tombol Play pada Recorder yang aku bawa.

Aku cuma ingin cari cewek aja di sini hahahaha...


Wajah pemuda yang kami wawancarai seketika menjadi pucat seperti darahnya meninggalkannya begitu saja.

Dia membisu dan tidak bisa menjawab apa-apa.

Saatnya!

"Ke-"

"Keluar! Kami tidak butuh orang yang tidak serius sepertimu!"

Dasar sial! Kau mengambil bagian terkerennya!


"Eh? Kenapa? Aku ingin mengatakannya~ Ahaha" Kata Kak Rossa sambil menaruh tangan di belakang kepalanya.

"Padahal ini ideku..." Kataku sebal.


"Ahaha, sori... Aku terbawa suasana. Lagipula tidak apa-apa kan?" Kak Rossa mengatakannya dengan riang.


Ini ideku.


Karena tiap tahun ada saja murid bodoh yang berniat menjadi Komite Perpus hanya karena ingin melihat lawan jenisnya, aku menyusun rencana yang sebenarnya cukup mudah tapi jarang di lakukan. Mereka kami biarkan beberapa jam di ruang tunggu menunggu dan merekam pembicaraan mereka. Dan tentu saja mengincar para pelamar bodoh yang dengan sengaja membicarakan niat tidak tulusnya.

Walau sebenarnya niatku hanya supaya tidak perlu capek-capek mewawancarai peserta yang tidak niat, tapi ternyata banyak juga yang terjerat dengan jebakan ini.


Sebenarnya dari awal pekerjaan kami tidak terlalu berat. Kami hanya menyeleksi tidak lebih dari 25 orang. Karena sebenarnya satu kelas hanya boleh mengajukan satu wakil.




"Benar-benar tidak ada yang menarik," Kata Kak Rossa sambil melipat tangannya.

Baru saja kita mewawancarai 12 orang kau sudah bicara seperti itu. Katakanlah nanti kalau sudah mewawancarai 20 orang.


"Tapi apa definisi Kak Rossa dengan menarik?"

Isaac bertanya sesuatu yang tidak penting. Walau aku juga ingin tahu.


"Yah. Kalian tahu. Senior kita memilih kita waktu kita tingkat 1 karena kita menarik,"


Aku mengerti kalau Senior kita memilih Kak Rossa karena dia benar-benar unik. Mengesampingkan sifatnya yang mengerikan kalau masalah waktu, dia ramah, manis, dan bertanggung jawab. Dia adalah contoh pemimpin. Oh, sudahkah aku bilang kalau dia pintar? Meskipun terkadang bertingkah tidak waras, tapi itu dalam frekuensi yang wajar.

Hah? Tidak waras? Kalau kau bertanya seperti itu, biar kupastikan sekali, DIA TIDAK WARAS!!


Aku juga mengerti kalau senior memilih Isaac karena dia juga cukup menyukai buku. Tidak terlihat dari wajah tampannya kalau dia sangat suka buku. Sebenarnya jarang bagiku menyebut laki-laki lain tampan. Tentu saja alasan utamanya karena aku bisa-bisa disebut tidak normal.

Tapi "tampan" disini bukan seperti wajah tipe artis yang membuat para laki-laki merasa ingin muntah dan membuat para wanita berteriak kegirangan melayang-layang. Tapi dia adalah tipe nice guy yang ramah dan tidak berlebihan. Sederhana. Simpel.

Hm. Tapi, mungkin senyumnya sedikit menyebalkan.

Tapi yang paling penting adalah kami memiliki hobi yang sama. Itu sebabnya aku akrab dengannya selama lebih satu tahun.


Untuk alasan kenapa aku bisa terpilih itu adalah misteri terbesar. Sama dengan misteri sampai desimal ke berapa perbandingan konstanta antara diameter dan jari-jari lingkaran. Sama seperti kemana hilangnya pesawat yang menghilang di atas segitiga Bermuda. Hah? Sudah ketemu? Aku rasa analogi itu sudah terlalu tua.



"Jangan merendah seperti itu,"

Dan begitu kata Isaac sambil menepuk pundakku.


"Hmm... tapi, aku juga tidak mengerti alasan kenapa Al bisa terpilih..." Kata Kak Rossa sambil menopang dagunya menunggu peserta selanjutnya masuk.


"Jahat," Kataku singkat.


"Hehehe, aku sebenarnya tahu alasan kenapa Al terpilih,"

Kalau tahu beritahu.

"Haah~ Lebih baik kau tidak tahu,"

Menyebalkan. Apa lagi senyummu yang sok tahu itu. Aku tahu kau lebih tua tapi terkadang kau memang menyebalkan.


"Al... Tolong mengertilah..."


Apa ini! Kenapa tiba-tiba mode sinetron!


"Hyahyahyahyahyahaha... Sebenarnya Kata senior kau itu lucu. Mereka bilang, sekali-kali kita perlu orang yang santai dan memiliki satu squad kutu buku bukan sesuatu yang menarik, dan begitulah kau terpilih deh."

Oh ya. Keren. Eksistensiku disini tidak lebih dari badut. Aku bukan lah orang yang bisa melucu. TApi kalau ditertawakan aku memang sering apalagi oleh orang-orang tidak waras macam Rossa dan senior.


"Tidak, tidak, tidak. Kau salah. Kami suka dengan reaksimu yang berlebihan terhadap lelucon, hahaha,"


***

Setelah selesai mewawancarai seluruh peserta. Hanya 3 orang yang benar-benar memiliki kualifikasi untuk menjadi Komite. Oh tentu saja kualifikasi Kak Rossa tidak akan waras.


Kalian boleh melihat log wawancara kami yang aneh.

========================================

Q : Jadi, Siapa namamu?

1 : Aisa. Panggil saja Aisa.

2 : Eve.

3 : Nama Saya Sabrina. Tapi teman-teman sebagian besar memanggil saya Nana.


========================================

Sampai di sini tidak ada yang aneh.

Gadis yang bernama Aisa memiliki rambut ekor kuda yang cukup keren. Dia hampir terlihat seperti pemain band. Aku kira dia cocok bermain bass. Kau tahu, gadis yang bisa bermain gitar itu seksi.

Selanjutnya Eve. Dia berambut pendek dan kulitnya pucat. Entah kenapa pandangan matanya sangat kosong namun tajam. Aku takut memandang matanya.

Terakhir, tentu saja Adikku. Sesuai dugaanku dia ikut.

Ah! Kenapa tidak ada laki-laki yang sedikit berguna!


"Kau doyan laki-laki?,"

NO THANKS! Tidak terimakasih.

"Lalu kenapa bertanya?" Tanya Kak Rossa.

Aku mau junior untuk disuruh-suruh. Kalau semua perempuan, aku dan Isaac akan jadi kuli panggul kalian. Kalian perempuan tidak mungkin menaruh buku pada Rak paling atas di lantai 2, kan? Kalian juga tidak mungkin membawa satu kardus buku baru yang baru saja diantar, kan?

========================================

Q 2 : Jadi, Kenapa kamu mendaftar menjadi Komite? Bisa disebutkan alasannya?


Aisa : Hm... karena aku ingin ikut andil membantu Kakak-kakak sekalian. Sepertinya menyenangkan. *tertawa*

Eve : Karena aku suka buku.

Nana : Karena menjadi Komite merupakan suatu tanggung jawab besar. Dan saya merasa terpanggil untuk memajukan perpustakaan ini bersama kakak-kakak sekalian.


========================================

Selain jawaban Nana yang terdengar sempurna jawaban yang lain biasa-biasa saja.

Ah, ngomong-omong, rekaman jebakan itu aku putar di sini. Itu sudah cukup mengurangi populasi peserta dengan drastis. Terkadang aku bangga dengan ideku yang kadang-kadang cemerlang.

========================================

Q3 : Menjadi komite itu tanggung jawabnya besar, selain itu juga butuh tenaga ekstra. Apa kalian yakin mengajukan diri?


Aisa : Lho? Kok tanya? Tentu saja. Aku punya banyak waktu!

Siapa yang tanya kau punya waktu? Kenapa kau tanya balik?!

Aisa : Lho bukannya itu implikasi? Karena aku punya banyak waktu aku mengajukan diri. Kalau aku sibuk aku tidak akan mengajukan diri.


Hm... benar juga. Tunggu! Kau tidak menjawab pertanyaanku yang selanjutnya!


Eve : Yakin.


Singkat. Padat. Jelas. Irit.

Nana : Saya tidak bisa menawarkan banyak. Tapi saya akan mengusahakan yang terbaik.

Rasanya aku bangga sekaligus malu menjadi Kakakmu.

========================================

Q4 : Kalian baca buku? Buku apa yang kalian baca kemarin?

Aisa : Er...


Kenapa kau terlihat bingung?!

Aisa : Kemarin aku baca buku pelajaran...


Itu tidak di hitung!

Aisa : Ox-oxford?


Kamus juga tidak dihitung!

Aisa : Gui-guitar world?


Majalah apa lagi!

Aisa : ...Si-si


Si?

Aisa : Siti Nurbaya.

...Aku terkejut.



Eve : Asian Eclipse karya Backman.

Hm? BUku apa itu?

Eve : Tentang intrik-intrik perekonomian di Asia. Karya Backman yang satu ini cukup detail dalam menyingkap gelapnya ekonomi di daerah Asia. Buku ini cukup lama, terbitan tahun 1997. Saya membacanya karena buku tersebut juga membahas ekonomi Indonesia di era Orde baru...


Dan seterusnya. Kami tidak menghentikannya karena Eve terlihat sangat antusias. Meskipun wajahnya tidak terlihat antusias, cara bicaranya membuat kami tidak tega menghentikannya.



Nana : Aku tidak baca apapun kemarin. Tapi 2 hari yang lalu aku baca Biografi Einstein.


========================================

Q5 : Coba sebutkan kelebihan dan kekuranganmu.

Wow. Kita mulai terdengar seperti Interviewer sungguhan.

Aisa : Hm, Kelebihan... Aku suka segala sesuatu rapi,... Kekurangan...aku malas beres-beres.

Bukankah keduanya berkontradiksi?!

Aisa : Benar juga. Aku rasa yang tadi tidak di hitung...

Jadi?

Aisa : Kurasa kelebihanku adalah... Apa ya? Rasanya tidak enak memuji diri sendiri... hahaha.


...cepat.

Aisa : Aku multi-talent.

Wow. Percaya diri sekali

Aisa : Kekuranganku... Aku terlalu banyak talenta.

Bukankah itu kelebihan juga!!

Aisa : Tidak. Kau salah. Kebanyakan talenta, kemampuan jadi tidak fokus. Kau bisa semua tapi separuh-separuh.


Memang kau bisa apa?

Aisa : Aku bisa main gitar, bass gitar, keyboard, drum.


Wow. Ternyata kau benar-benar musisi. Bahkan kau bisa membuat band yang berisi dirimu sendiri.

Aisa : Ah! Aku tahu kekuranganku! Aku tidak terlalu bisa menggunakan barang elektronik.




Eve : Kelebihan, Aku bisa menge-hack data hasil ujian sekolah dan menyingkap konspirasi dibaliknya.


Tidak terimakasih. Aku masih ingin jadi siswa normal yang tidak tahu apa-apa tentang gelapnya dunia orang dewasa.

Eve : Kekurangan, aku belum bisa menge-hack database Pentagon.


Kalau kau bisa, dunia akan kacau.


Nana : Aku bisa banyak pekerjaan rumah tapi aku tidak pandai dalam olahraga.


========================================

Q5 : Apa acara TV favorit mu.


Aku pernah baca di buku kalau tiba-tiba mengganti topik wawancara membuat peserta lengah. Kak Rossa, harusnya kau menanyakan ini di awal.


Aisa : Aku tidak nonton TV

Eve : Tidak nonton TV

Nana : Saya jarang nonton TV.



...Aku juga tidak.

========================================

Q6 : Apa yang kau lakukan jika sekarang Alien menyerang kita dan ingin menghancurkan bumi.


Tipe pertanyaan seperti ini adalah jebakan. Biasanya mengetes kemampuan problem-solving.

Aisa : Hm. Sebaiknya telepon Power Range*, atau Kame* Rider, SWAT, Densus 88, Kopassus, SAS, atau apapun. Kita tinggal duduk dan menunggu mereka mengalahkannya. Yang penting siapkan bom proton atau sesuatu.

Aku setuju. Tapi aku rasa 2 pilihan pertama tidak akan datang karena mereka tidak eksis di realita.


Eve : Menyuruh mereka menyerah.


Ini bukan Swe*per si pencuri di kartun balita DOra the Expl*rer yang akan berhenti mencuri kalau kita berteriak "Sweeper jangan mencuri!".



Nana : Aku akan kabur.


Pilihan yang bijak. Sayangnya kabur kemana?

========================================

Q7 : Kalau kau diberi tiga permintaan, kau minta apa?

Aisa : Aku minta uang, lalu rumah dan 3 permintaan lagi, lalu minta mobil dan kapal lalu minta 3 permintaan lagi...


Manusia memang licik dan serakah.


Eve : Sedang tidak ingin sesuatu. Akan kuberikan permintaan itu pada kucing. Karena manusia itu terlalu mengerikan.

Bukannya kau juga manusia? Lagipula kenapa diberikan pada kucing?! Lagipula kenapa kau bersikap seakan kau bukan manusia?!


Nana : Aku rasa aku minta perdamaian dunia, sudah cukup.

Aku rasa saatnya kau pergi menjadi duta perdamaian dunia.

========================================

Karena pertanyaan selanjutnya benar-benar tidak berarti aku tidak repot-repot mengingatnya.

Sebagian besar jatuh karena menjawab dengan tidak jujur, ragu-ragu dan kurang percaya diri. Sehingga mereka 3 orang yang bisa menjawab dengan Pe-de nya yang berhasil terpilih.

Akhirnya sekarang aku dan Isaac secara resmi menjadi kuli panggul Komite Perpustakaan Season 2. Dulu kami punya 2 Senior laki-laki, sekarang mereka sudah tidak mengurusi hal seperti ini.


"Mohon bantuannya"

"Kami juga mohon bantuannya satu tahun kedepan," Kata Kak Rossa merendah.


Oh ya. Girls Talk. Mereka sudah larut ke dimensi lain.








"Jadi, apa kalian sudah mengerti?" Kataku mengakhiri penjelasan singkat tentang seluk beluk perpustakaan.


"Yups! Terdengar mudah," Aisa melepaskan senyuman hangatnya yang menyinari sudut perpustakaan yang cukup gelap ini.

Ok. Tugasku sudah selesai. Yang harus dilakukan selanjutnya adalah pembagian piket.


Meski ada pembagian tugas biasanya tetap saja seluruh anggota komite datang entah cuma melamun tidak jelas atau membantu-bantu.


"Oi, Al. Kau taruh buku ini di rak 17A."


Segera setelah aku kira sudah bisa bersantai. Datanglah perintah dari atasan.


"17A? Bagian Sci-fi?" Tanyaku retorik sambil memandang buku baru yang baru saja kuterima.


Restser


Judul buku apa ini?


"Restser, karya Adam Lightman. Aku tidak begitu mengerti sci-fi. Tapi sepertinya itu buku bagus. Kalau tidak salah temanya adalah Penjelajahan Waktu,"


Hm. Memang tema sci-fi tidak jauh-jauh dengan penjelajahan waktu. Tapi sampai saat ini aku masih terpukau dengan Angel and Demon karya Dan Brown.

"Itu sih, novel misteri. Walau ada sci-fi nya juga."

Dipikir-pikir rasanya aku belum pernah menyentuh Sci-fi murni. Mungkin aku akan coba membacanya.

"Lakukan itu besok. Kita masih banyak kerjaan." Kata Kak Rossa menghalangi niatku.


"Kalau mau ke rak 17A aku minta kau juga taruh buku-buku ini,"

Bagus Isaac. Sekarang kau juga menambahkan pekerjaan untukku.

"Bawalah Aisa bersamamu,"

Oh kau benar. Terimakasih sudah mengingatkanku.

Aisa sangatlah manis sampai aku tidak tahan untuk selalu memandangnya. Dia adalah oasis di padang pasir. Batu baterai bagi remote. Penggerak aku yang pemalas ini.


Ehm. Nona Aisa, maukah anda membantu saya mengembalikan buku-buku ini ke habitatnya?


"Ok!"

Dengan jawaban secepat aliran listrik ditambah servis senyuman yang tidak akan mudah diimitasi oleh artis hollywood pemenang oscar sekalipun, Aisa menyetujuinya dengan mudah.



"He~ Restser karya Adam Lightman..."

"Hm? Kau tahu buku itu?"

"Belum baca, tapi Eve punya satu di rumah..."

"Kalian berteman?"

"Hahaha. Kami teman satu kamar,"

Kalian saudara?

"Bukan. Tapi kami sudah seperti saudara,"


Oh begitu. Kalian kos?

"Iya seperti itulah. Ngomong-omong, kakak percaya Penjelajahan Waktu?"


Hm? Kenapa tiba-tiba bertanya masalah itu? Apa karena kita tadi sedang membicarakan Restser? Kalau dibilang percaya... aku hampir tidak percaya sama sekali. Kau sendiri?

"Pernah dengar kata-kata ini? Imagination is more important than Knowledge. Knowledge is limited and Imagination encircles the world,"

Setelah Aisa mengeluarkan kalimat dalam bahasa inggris tersebut dengan fasih, aku mencoba menggali otakku, mencari orang terkenal atau bijak yang pernah mengatakan kata-kata itu.


...Kalau tidak salah... Albert Einstein?

"Ping-pong. Tepat sekali. Tuan Albert Einstein, fisikawan yang dianggap sebagai bapak fisika modern. Bukankah menurutmu aneh dia mengatakan hal se-tidak-masuk-akal ini? Dia seorang scientist, fisikawan. Tapi kenapa dia menyebut-nyebut Imajinasi?"

Itu... aku tidak tahu.


"Kak Al tahu rumus persamaan paling terkemuka yang Tuan Einstein temukan?"

Rumus kesetaraan energi dan massa?

"Tepat sekali. E=mc2. Bukankah rumus itu aneh?"

Aneh? Darimana? Sebenarnya dari awal aku tidak paham pembicaraan kami. Aku hanya antusias karena Aisa dengan semangatnya menjelaskan ini padaku.



"Rumus tersebut terlihat seperti khayalan seorang anak-anak."


AKu kira tidak sopan menyebut penemuan seorang profesor besar dengan khayalan anak-anak. Sama seperti menyebut karya lukisan abstrak dengan coret-coretan tidak jelas. Tapi sepertinya Aisa benar-benar serius saat menyampaikan ini.


"Pernah dengar teori ini? Dunia dibentuk oleh Sains dan Imajinasi.


Sains mematuhi hukum alam. Imajinasi melanggarnya dengan kemampuannya menyampaikan sesuatu tanpa batas. Sains mendapatkan sesuatu dari yang telah ada. Sedang imajinasi mendapatkan sesuatu dari ketiadaan. Pasangan yang serasi kan?


Tadi aku bilang E=mc2 terlihat seperti khayalan. Pada kenyataannya memang banyak yang berpikir seperti itu.

Bukankah pada zamannya kesetaraan energi dan massa hampir tidak terpikirkan sama sekali? Bagaimana seseorang bisa menampilkan teori tersebut tanpa cela sedikit pun?"


Aku tidak bisa berkata apa-apa. Bukannya aku bingung atau kagum. Tapi karena aku kira otak gadis ini sudah rusak.



"Kecuali, Tuan Einstein dari masa depan. Itu lain cerita,"


Aisa setengah bercanda saat mengatakan ini. Tapi entah kenapa aku merasa ada sedikit aura keseriusan dalam kalimatnya.




Aku dan Aisa berpisah di rak nomor 14. Karena tujuanku adalah rak 17A.

Tidak terlalu terburu-buru tapi juga tak terlalu santai. Aku membawa beberapa buku untuk ditaruh kembali ke tempat asalnya sesuai genre atau tema buku.


Saat aku berbelok ke rak tujuanku, aku mencium sesuatu yang tidak beres.


Awalnya mataku tidak bisa menangkap apa yang ada di depan mataku dengan jelas karena rak 17A tidak cukup tersinari matahari jika sudah sore. Retinaku tetap sulit menangkap bayangan meski pupil mataku sudah memberi asupan cahaya semaksimal mungkin.

Tapi sepertinya ini masalah waktu sebelum aku sadar bahwa...



Di depanku tergeletak sebuah mayat bersimbah darah.




Setelah mataku benar-benar melihat objek tersebut dengan jelas, barulah seluruh panca inderaku menyetujui bahwa itu mayat dan perutku mulai mual akibat reaksi tersebut.


Aku tidak berteriak. Aku tidak bergerak. Aku tidak menatap mata mayat tersebut. Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya diam.


Otakku terlalu panik memproses apa yang harus kulakukan?

Haruskah kupastikan kematiannya?

Haruskah aku berteriak?

Haruskah aku berlari dari sini secepatnya?


Kenyataannya bahwa saat ini aku tidak bisa memutuskan opsi semudah itu.


Aku terlalu takut.


Merah darah menghiasi celah berjarak satu meter antar rak. Buku-buku sci-fi yang mayoritas bersampul gelap membuat kontras antara darah dan buku semakin kabur. Sehingga terlukislah dimataku sebuah delusi yang mengerikan.


Saat aku kira aku mendapat pertolongan dari suara langkah kaki yang perlahan menuju ke arahku. Aku segera membalikkan pandanganku dengan segera. Berbalik ke arah siapa pun yang berada di belakangku. Mencari tumpuan untuk menghadapi makhluk hidup yang sudah menjadi objek.


Saat itu kulihat seorang gadis dengan rambut pendek dan mata tajam berdiri di depanku. Saat itu aku baru sadar, gadis itu, Eve, tidak bereaksi apa pun


"Apa yang Kakak lakukan di sini?"

Apa kau menuduhku sebagai pelakunya?! Aku baru sampai di sini dan tiba-tiba ada mayat!


"Pelaku? Mayat?" Eve mengeluarkan ekspresi bingung.


Jangan pura-pura bodoh! Lihat di belakangku! MAYAT!!

"Aku tidak lihat apa pun,"



Saat aku akan membalas kalimatnya, dia memotong kata-kataku...





"Aku tidak melihat apa pun,"



Saat itu aku sadar suatu hal kecil yang terlintas di benakku.


Iris mata Eve berwarna merah.

Entah itu buatan atau asli. Atau itu pantulan bayangan darah yang bergelimang di sekitarku.




Aku takut.

========================================
NEXT :

Chapter 02 : A lie Everyone Accepts Will Become A Truth

========================================

Author Note :

Tuan Einstein, Maafkan saya!

Well, this is gonna be fun XD
========================================

5 komentar:

Neohybrid_kai mengatakan...

Ahaha, nice chapter as always.

Science and Imagination = Haruhiism! XDD

Kyon: alien, time traveler, esper, semua itu tidak ada!
Haruhi: kenapa kau begitu yakin? dulu orang juga percaya kalau bumi berputar mengelilingi matahari!

dan agak off topic, kalau Logic and Emotion = Umineko!

Anonim mengatakan...

"Q7 : Kalau kau diberi tiga permintaan, kau minta apa?

Aisa : Aku minta uang, lalu rumah dan 3 permintaan lagi, lalu minta mobil dan kapal lalu minta 3 permintaan lagi...

Manusia memang licik dan serakah."

kalau saya sekalian aja minta diberi permintaan yang tidak terbatas. xD (manusia memang licik dan serakah)

nice story...

lebih bagus daripada yang sebelum-sebelumnya.

zetsudou sougi mengatakan...

"darah bergelimang"?
apakah pilihan kata ini benar?

fallendevil mengatakan...

@kai
Arigatou :maaf:

Sebenernya science dan logic dan imajinasi itu sangatlah dekat. Dan semakin dekat dengan adanya scifi

@anon
LOL makasih^^

@zetsudou
darah bergenang?

Zetsudou Sougi mengatakan...

wow!!
saya baru sadar bahwa saya juga disebut di chapter ini!!:malu: